Sejarah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia Menurut Para Ahli

SEJARAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

Artikel ini akan mensintesis Sejarah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia dari beberapa referensi, baik dari Buku, Artikel Jurnal Ilmiah, dan Artikel yang ada di Blog lengkap dengan sumbernya.

Sejarah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia Menurut Para Ahli

Sumber Pertama

http://zulfaidah-indriana.blogspot.com/2013/05/sejarah-penelitian-tindakan-kelas-ptk.html

Penelitian Tindakan atau Action Research mulai berkembang sejak perang dunia ke dua. Saat itu, Penelitian TIndakan sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Australia, dan Canada. Munculnya istilah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) diawali dari adanya penelitian tindakan itu sendiri atau action research. 

Pada awalnya penelitian tindakan digunakan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi seseorang dalam tugasnya sehari-hari dimanapun tempatnya, seperti kantor, pabrik, bank, sekolah, rumah sakit, dan lain sebagainya. Penelitian Tindakan ini bersifat partisipatif karena dilakukan sendiri oleh peneliti dari penentuan topik permasalahan, merumuskan masalah, merencanakan, melaksanakan, sampai menganalisis dan membuat laporannya. 

Selain bersifat partisipatif, penelitian tindakan juga bersifat kolaboratif. Hal ini dikarenakan pada penelitian tindakan juga melibatkan rekan kerja dalam proses penelitiannya.

A.    Sejarah Perkembangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Munculnya istilah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, dikarenakan untuk membedakan penelitian yang digunakan dalam dunia pendidikan dengan penelitian tindakan pada bidang lainnya. Penambahan kata kelas pada penelitian tindakan kelas ini, juga untuk mengarahkan pada pemecahan permasalahan dengan penerapan langsung di kelas. Kelas di sini tidak hanya berarti di ruang kelas, melainkan di manapun tempat guru tersebut mengadakan proses pembelajaran baik itu di laboratiorium, tempat praktek, atau proses pembelajaran di luar kelas.

Lahirnya rancangan penelitian tindakan kelas dapat ditelusuri dari awal penelitian dalam ilmu pendidikan yang diinspirasi melalui pendekatan ilmiah yang diadvokasi oleh filsuf John Dewey (1910) dalam bukunya How We Think dan The Source of a Science of Education

Awal mulanya, Action Research dikembangkan oleh seorang psikologi bernama Kurt Lewin dengan tujuan untuk mencari penyelesaian terhadap problem sosial, seperti pengangguran atau kenakalan remaja yang berkembang di masyarakat pada waktu itu. Action Research diawali oleh suatu kajian terhadap suatu problem secara sistematis. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali dikenalkan oleh Kurt Lewin. 

Pada waktu itu, PTK dipakai untuk mendeskripsikan penelitian yang merupakan perpaduan antara pendekatan eksperimental dalam bidang ilmu social dengan program tindakan social untuk menanggapi masalah social. Penelitian tindakan pertama kali dikembangakan oleh Kurt Lewin seorang Jerman pada tahun 1940-an. 

Ia seorang ahli psikologi social dan eksperimental. Ia adalah seorang yang peduli terhadap masalah-masalah social dan memfokuskannya pada proses kelompok partisipatif untuk menangani konflik, krisis, dan perubahan-perubahan yang umumnya ada dalam suatu organisasi. 

Lewin pertama kali mengemukakan istilah action research (penelitian tindakan) pada makalah-makalah yang ditulisnya pada tahun 1946, yang antara lain berjudul Action Research and Minority Problems, dan Characterizing action research as “a Comparative Research un the Condition and Effect of Various Forms of social action and Research Leading to social Action”.

Dalam proses perkembangan selanjutnya, pada tahun 1952-1953, Stephen Corey memakai model ini untuk tindakan dalam dunia pendidikan yang menurutnya bahwa dengan menggunakan PTK perubahan dapat dilaksanakan dan dirasakan. Dalam PTK, guru, supervisor, orang tua, dan pejabat administrator dapat terlibat dan dapat juga merasakan perubahan yang terjadi pada anak didik.

Setelah itu tercatat ada beberapa proyek yang terkait dengan PTK diantaranya, Council’s Humanities Curriculum Project (HCP) pada tahun 1967-1972 di Inggris. Kepala HCP, Lawrence Steen House (1975) memperkenalkan istilah “the teacher as researcher” atau guru sebagai peneliti.

Sekitar tahun 1972-1975, ada proyek yang dinamakan Ford Teaching Project, yang dipimpin oleh John Elliot dan Clem Adelman (Hopkins, 1993 : 32). Ada 40 guru Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah yang dilibatkan dalam penelitian ini untuk menelaah praktek kelasnya dengan penelitian tindakan, sebagai upaya memperbaiki dan meningkatkan pengejaran mereka. Dari sinilah muncul istilah penelitian tindakan kelas. Pada tahun 1976 didirikan suatu jaringan penelitian tindakan kelas yang dinamakan classroom action research, yang berpusat di Cambridge Institute.

Selanjutnya pada tahun 1980-an guru-guru di proyek John Elliot memusatkan kegiatan pada “adanya kesenjangan antara mengajar untuk pemahaman dan mengajar untuk kebutuhan”. Sejak saat itu, banyak perhatian ditujukan pada PTK, karena semakin tingginya kesadaran guru akan manfaat PTK.

Pada awal tahun 1980, di Amerika, muncul suatu keinginan untuk mewujudkan kolaborasi dalam upaya mengembangkan profesionalisme antara pendidik dan tenaga kependidikan. Gideonse (1983) mengemukakan bahwa restorasi terhadap pendekatan penelitian perlu diadakan sehingga penelitian yang dilakukan merupakan investigasi yang terkendali terhadap berbagai fase pendidikan dan pembelajaran dengan cara refleksi dan sistematis. Upaya kaloborasi ini dikenal sebagai tindakan atau Action research.

Selanjutnya Stephen Kemmis memikirkan bagaimana konsep Penelitian Tindakan ini diterapkan pada bidang pendidikan (Kemmis,1982). Berpusat pada Deakin University di Australia, Kemmis dan kolegannya telah menghasilkan suatu seri publikasi dan materi pelajaran tentang Penelitian Tindakan, Pengembangan Kurikulum, dan Evaluasi. Selanjutnya, artikel mereka mengenai Penelitian Tindakan bermanfaat untuk pengembangan penelitian Tindakan dalam bidang pendidikan.

Dalam ilmu sosial, Kurt levin (dalam McTaggart, 1993) memahami antara hubungan antara teori dan praktik sebagai aplikasi dari hasil penelitian. Menurut Levin kekuatan dari penelitian tindakan terletak pada fokus penelitian, yaitu masalah-masalah sosial poitik.

B.     Perkembangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia

Sebenarnya PTK sudah dilaksanakan oleh guru sejak ada proses pembelajaran secara klasikal, meskipun tidak disadari oleh guru. Pada saat itu sudah dilakukan upaya perbaikan proses pembelajaran di kelas, namun pada saat itu belum dinamakan PTK. Sejak ada proses pembelajaran, praktis PTK sudah ada, hanya saja belum ada laporan secara tertulis tentang upaya perbaikan pembelajaran di dalam kelas.

Sampai dewasa ini keberadaan PTK sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya. Di dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. 

Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata kuliah. Untuk lebih detailnya berikut ini akan dikemukan mengenai hakikat PTK.

Di Indonesia PTK masih dapat dikatakan relatif muda, karena selama ini model penelitian di kelas berupa penelitian kuantitatif. Paradigma lama beranggapan bahwa kelas hanya merupakan lapangan tempat uji coba teori, tempat menyebarkan angket penelitian tanpa ada usaha melibatkan guru sebagai tim peneliti, padahal guru merupakan kunci keberhasilan metode pembelajaran yang hendak diujicobakan. 

Dengan munculnya PTK diharapkan akan menghapus paradigma seperti itu. Gurulah yang lebih tahu permasalahan yang ada dikelasnya, yang pada gilirannya guru jugalah yang berperan mencari solusinya. PTK saat ini merupakan sarana yang paling ampuh dalam mencari solusi terhadap permasalahan dalam pembelajaran yang dialami guru.

Pada tahun 1994-1995 proyek PGSD memprogramkan penelitian kebijakan dan penelitian tindakan dengan topic ke-SD-an. Namun pada waktu itu belum ditekankan pada penelitian tindakan kelas, karena PTK masih merupakan “hal baru”. 

Kemudian pada tahun 1996-1997, proyek penelitian guru SD memprogramkan penelitian tindakan kelas bagi dosen-dosen PGSD di seluruh Indonesia, bekerja sama dengan guru-guru SD. Sejak saat itu, penelitian tindakan kelas mulai berkembang sebagai suatu penelitian kolaboratif di dalam kelas sebagai upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran.

Saat ini, PTK sangat populer dalam masyarakat apalagi yang menyangkut tentang pendidikan dan pembelajaran. Sebagai sebuah penelitian terapan, PTK dimanfaatkan oleh guru dalam meningkatkan dua hal yang sangat fundamental yaitu, proses pelaksanaan pendidikan dan hasil yang didapat yang nantinya menjadi penentu kualitas pendidikan tersebut yang notabene orientasinya tak lain adalah siswa. 

Dengan dilaksanakannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti, yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara sistematis, realities, dan rasional, yang disertai dengan meneliti semua aksinya di depan kelas sehingga gurulah yang tahu persis kekurangan-kekurangan dan kelebihannya. 

Apabila di dalam pelaksanaan “aksi” nya masih terdapat kekurangan, dia akan bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya tidak terjadi permasalahan.

Sejarah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia Menurut Para Ahli

Sumber Kedua:

http://www.detikpendidikan.com/2018/01/sejarah-lahirnya-penelitian-tindakan.html

Penelitian Tindakan Kelas yang disingkat dengan PTK dan juga dikenal dengan Classroom Action Research yang disingkat dengan CAR. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya.

Tokoh penelitian tindakan kelas yang juga aktor sosial (Levin, 1952) adalah Stephen M. Corey (1949, 1952, 1953). Ia mempelopori pemanfaatan penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan mengalami kemunduruan selama kurang lebih dua puluh tahun sejak Hodgkinson (1957) mengadvokasinya.

Pada akhir tahun 1970 dan awal 1980, di Amerika Serikat muncul keinginan mewujudkan kolaborasi, dengan demikian mampu mengembangkan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya. Pada tahun 1980 Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia ditandai dengan adanya Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G). 

Proyek tersebut berhasil merumuskan persyaratan kemampuan bagi guru. Kemampuan yang dimaksud dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu kemampuan profesional, kemampuan pribadio, kemampuan kependidikan (pedagogik) dan kemampuan sosial.

Kemmis (1982) bahkan menegaskan bahwa Theory and action might develop together form application of the scientific approach. Pada tahun 1983, Gideonse mengemukakan perlu dilakukan restorasi terhadap pendekatan peneltian tindakan sehingga penelitian itu merupakan suatu investigasi terkendali terhadap berbagi fase pendidikan dan pembelajaran dengan cara refleksif dan sistematis. Selain itu dukungan kolaborasi semakin meluas (Schon, 1983: Prunty dan Hively 1982) upaya kolaborasi ini dikenal sebagai suatu penelitian tindakan (action research).

Ilmu Sosial Kurt Levin (dalam McTaggart, 1993) memahami hubungan antara teori dan praktik sebagai aplikasi dari hasil penelitian. Menurut Levin kekuatan dari penelitian tindakan terletak pada fokus penelitian, yaitu masalah-masalah sosial spesifik. 

Bahkan McNff (1992:1) dalam bukunya yang berjudul Action Research: Principles and Practice memandang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh pendidik sendiri terhadap kurikulum, pengembangan sekolah, perbaikan pembelajaran, meningkatkan prestasi belajar, pengembangan keahlian mengajar dan lain-lain.

Saat ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sedang berkembang dengan pesat di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Canada, Inggris dan lain-lain. Indonesia dalam hal ini juga tidak mau kalah, dimana Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indoensia saat ini juga mengalami perkembangan yang sangat pesat, dimana upaya untuk meningkatkan kualitas guru salah satunya dengan harus melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). 

Hal inilah yang membuktikan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia sudah sangat populer, walaupun saat ini parah ahli masi pro dan kontra dengan keilmiahan dari penelitian tersebut. Sumber: Jakni. 2017. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Alfabeta.

Sejarah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia Menurut Para Ahli

Sumber Ketiga:

https://idtesis.com/penelitian-tindakan-kelas-ptk-sejarah/

Pada saat ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berkembang dengan pesat di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Inggris, dan beberapa negara maju lainnya. Hal ini disebabkan jenis penelitian ini memiliki kekhasan dan kekhususan serta karakteristik tersendiri dibandingkan dengan jenis penelitian pada umumnya. 

PTK diyakini menawarkan cara dan prosedur baru untuk menigkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di kelas, dengan melihat berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil pemebelajaran yang terjadi pada siswa (Suyanto, 1997). PTK merupakan bagian dari penelitian tindakan (action research), sehingga membicarakan sejarah PTK berarti membahas sejarah penelitian tindakan.

Penelitian tindakan merupakan perkembangan baru yang muncul pada tahun 1940-an sebagai salah satu pendekatan penelitian yang lahir di tempat kerja, tempat di mana peneliti melakukan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. Misalnya, kelas merupakan tempat penelitian bagi guru, sekolah menjadi tempat penelitian bagi kepala sekolah, aktivitas masyarakat tempat penelitian bagi petugas penyuluh masyarakat. 

Penelitian yang dilakukan di tempat peneliti bekerja atau beraktivitas adalah untuk memperbaiki kinerja di mana si peneliti bekerja tanpa harus melakukan penelitian di tempat lain. Penelitian tindakan merupakan penelitian yang bersifat pragmatis (praktis) tanpa harus membutuhkan waktu khusus. Penelitian tindakan dilakukan bersamaan ketika si peneliti sedang bekerja atau beraktivitas di tempat kerjanya, tanpa mengganggu secara berarti pekerjaannya tersebut.

Perkembangan PTK di Indonesia masih relative muda. Pada tahun 1994-1995 proyek PGSD memprogramkan penelitian kebijakan dan penelitian tindakan dengan topic ke-SD-an. Namun pada waktu itu belum ditekankan pada penelitian tindakan kelas, karena PTK masih merupakan “hal baru”. 

Kemudian pada tahun 1996-1997, proyek penelitian guru SD memprogramkan penelitian tindakan kelas bagi dosen-dosen PGSD di seluruh Indonesia, bekerja sama dengan guru-guru SD. Sejak saat itu, penelitian tindakan kelas mulai berkembang sebagai suatu penelitian kolaboratif di dalam kelas sebagai upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran.

Akhir-akhir ini action research menjadi populer dilakukan oleh para profesional dalam upaya menyelesaikan masalah dan peningkatan mutu. Dengan demikian, action research bermula dari suatu masalah yang terjadi dalam suatu aktivitas tertentu. Demikian juga halnya di bidang pendidikan dan pengajaran. 

Awal mulanya action research yang dikembangkan oleh seorang psikolog yang bernama Kurt Lewin yang dimaksudkan untuk mencari penyelesaian terhadap sosial antara lain; pengangguran, kenakalan remaja yang berkembang  di masyarakat pada waktu itu. Action research dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap suatu problema tersebut secara sistematis. 

Hasil kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk menyusun suatu rencana kerja sebagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan dan rencana kerja yang telah disusun, dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang hasilnya digunakan sebagai masukkan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi ada saat pelaksanaan. Hasil dari proses seleksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan penyempurnaan rencana tindakan selanjutnya.

Penelitian Tindakan Kelas Mulai Dikenal
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karena itu, keberadaannya belum terlalu dikenal luas dan mapan. Keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan bobot keilmiahannya. 

Di Indonesia, Penelitian Tindakan Kelas mulai muncul ke permukaan pada waktu upaya-upaya perbaikan mutu pendidikan dicanangkan, seperti proyek guru SD melalui Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). 

Mereka belajar melalui program-program studi ke-SD=an dan reguler pada Program Pascasarjana LPTK seperti di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pendidian Indonesia (UPI), Universitas Negeri Malang, dan beberapa LPTK lainnya. Hal yang menggembirakan dewasa ini banyak tesis dan disertasi di beberapa LPTK sudah mengangkat PTK sebagai kajian dalam tesis dan disertasinya. Kondisi ini sungguh positif dan menggembirakan, mengangkat hasil PTK ini dapat memberikan jawaban langsung terhadap permasalahan yang dihadapi guru dalam proses belajar mengajar di kelas.

Sejarah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia Menurut Para Ahli

Sumber Keempat:

http://ridhofkip.blogspot.com/2013/04/sejarah-penelitian-tindakan-kelas.html

Asal Mula Istilah Penelitian tindakan Kelas Penelitian tindakan pertama kali dikembangakan oleh Kurt Lewin seorang Jerman pada tahun  1940 – an. Ia seorang ahli psikologi social dan eksperimental. Ia adalah seorang yang peduli terhadap masalah-masalah social dan memfokuskannya pada proses kelompok partisipatif untuk menangani konflik, krisis, dan perubahan-perubahan yang umumnya ada dalam suatu organisasi. 

Lewin pertama kali mengemukakan istilah action research (penelitian tindakan) pada makalah-makalah yang ditulisnya pada tahun 1946, yang antara lain berjudul Action Research and Minority Problems, dan Characterizing action research as “a Comparative Research un the Condition and Effect of Various Forms of social action and Research Leading to social Action”.           

Ahli lainnya yang kontribusinya pada bidang penelitian ini adalah Eric Trist, seorang ahli psikiatri social. Lewin dan Trist mengaplikasikan penelitian mereka pada perubahan system yang terjadi di dalam atau antar organisasi. Mereka menekankan keprofesionalannya dan berkolaborasi dengan klien dan menguatkan peran hubungan kelompok sebagai dasar untuk pemecahan masalah.             

Selama beberapa dekade penelitian tindakan dilupakan orang karena dianggap kurang ilmiah. Namun pada pertengahan tahun 1970-an, bidang ini berkembang dan memunculkan empat aliran utama yaitu aliran tradisional, contextural (action learning), radical, dan penelitian tindakan yang berhubungan dengan pendidikan. 

Penelitian tindakan yang berhubungan dengan pendidikan dan bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan cara guru mengajar di kelas dikenal dengan penelitian tindakan kelas, berkembang dengan pesat, terutama di negara maju seperti Amerika serikat, Inggris, dan Australia. Di Indonesia, penelitian tindakan kelas mulai diperkenalkan pada tahun 1990-an. 

Belakangan ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) semakin menjadi trend untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang. Awal mulanya, PTK, ditujukan untuk mencari solusi terhadap masalah sosial (pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada saat itu. 

PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah tersebut secara sistematis. Hal kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan. 

Hasil dari proses refeksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan peryempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai suatu kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai. Dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, PTK berkembang sebagai suatu penelitian terapan. 

PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahap-tahap PTK, guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. 

Selain itu sebagai penelitian terapan, disamping guru melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas, tidak perlu harus meninggalkan siswanya. Jadi PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, guru mempunyai peran ganda : praktisi dan peneliti. 

Penelitian Tindakan Kelas Saat Ini 
Pada saat ini PTK  berkembang dengan  pesat di Negara-negara maju, seperti Amerika serikat,Kanada,Australia dan  beberapa Negara maju  lainnya. Hal ini disebabkan jenis penelitian ini memiliki kekhasan dan kekhususan serta karakteristik sendiri dibandingkan dengan jenis penelitin pada umumnya. 

PTK diyakini menawarkan cara dan prosedur baru untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam mengajar mengajar di kelas, dengan melihat berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa ( suyanto,1997 ). PTK merupakan bagian dari penelitian tindakan (action research), sehingga membicarakan sejarah PTK berarti membahas sejarah penelitian tindakan.   

Lahirnya rancangan PTK dapat di telusuri dari awal penelitian dalam ilmu pendidikan yang di inspirasi melalui pendekatan ilmiah yang diadvokasi oleh filsuf John Dewey ( 1910 ) dalam bukunya  How We Think And The Source Of A Science Of Education. Jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. 

Di dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata kuliah. Untuk lebih detailnya berikut ini akan dikemukan mengenai hakikat PTK. 

Penelitian tindakan merupakan perkembangan baru yang muncul pada tahun 1940-an sebagai salah satu pendekatan penelitian yang lahir di tempat kerja, tempat di mana peneliti melakukan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari. Misalnya, kelas merupakan tempat penelitian bagi guru, sekolah menjadi tempat penelitian bagi kepala sekolah, aktivitas masyarakat tempat penelitian bagi petugas penyuluh masyarakat. Penelitian yang dilakukan di tempat peneliti bekerja atau beraktivitas adalah untuk memperbaiki kinerja di mana si peneliti bekerja tanpa harus melakukan penelitian di tempat lain. 

Penelitian tindakan merupakan penelitian yang bersifat pragmatis (praktis) tanpa harus membutuhkan waktu khusus. Penelitian tindakan dilakukan bersamaan ketika si peneliti sedang bekerja atau beraktivitas di tempat kerjanya, tanpa mengganggu secara berarti pekerjaannya tersebut. 

Akhir-akhir ini action research menjadi populer dilakukan oleh para profesional dalam upaya menyelesaikan masalah dan peningkatan mutu. Dengan demikian, action research bermula dari suatu masalah yang terjadi dalam suatu aktivitas tertentu. 

Demikian juga halnya di bidang pendidikan dan pengajaran. Awal mulanya action research yang dikembangkan untuk mencari penyelesaian terhadap sosial antara lain; pengangguran, kenakalan remaja yang berkembang  di masyarakat pada waktu itu. Action research dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap suatu problema tersebut secara sistematis. Hasil kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk menyusun suatu rencana kerja sebagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut. 

Dalam proses pelaksanaan dan rencana kerja yang telah disusun, dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang hasilnya digunakan sebagai masukkan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi ada saat pelaksanaan. Hasil dari proses seleksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan penyempurnaan rencana tindakan selanjutnya. Dilihat dari aspek sejarah, penelitian tindakan pertama kali di kembangkan oleh seorang psikologi sosial yang bernama Kurt Lewin. 

Lewin dipandang sebagai tokoh penelitian tindakan, terutama untuk dibidang psikologi dan pendidikan. Ditempat kerjanya, dia mengembangkan model penelitian selama beberapa tahun yang kemudian terkenal dengan Action research, yaitu serangkain eksperimen terhadap komunitas masyarakat pada waktu itudi Negara amerika serikat pada pascaperang. Penelitian tindakan dilakukan lewis dilakukan utamanya berkaitan dengan pekerjaanya dalam bermacam-macam konteks perumahan terpadu. 

Penelitian tindakan yang emansipatoris berhubungan dengan gerakan social dibidang pendidikan (kemis,1993). Hal ini sebagai ekspresi dari inspirasi nyata dan praktis untuk mendoro0ng perubahan di dunia social ( pendidikan ) menjadi lebih baik, dengan melakukan tindakan-tindakan perbaikan social bersama kemudian memahami bersama makna tindakan-tindakan ini  dan berbagai situasi tempat tindakan-tindakan perbaikan di laksanakan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. 

Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya. Penelitian tindakan adalah cara suatu kelompok atau seseorang dalam mengorganisasi suatu keadaan sehingga mereka dapat mempelajari pengalaman mereka dan membuat pengalaman mereka dapat di akses oleh orang lain (Sukardi, 2007). 

Dalam praktiknya, penelitian tindakan dapat dilakukan baik secara kelompok maupun perseorangan  dengan harapan pengalaman mereka dapat ditiru atau diakses untuk memperbaiki kualitas kinerja orang lain. Secara praktis, penelitian tindakan pada umumnya sangat tepat untuk meningkatkan kualitas subjek yang hendak diteliti. Subjek penelitian ini dapat berupa kelas maupun sekelompok orang yang bekerja di industry atau lembaga social lain yang berusaha meningkatkan kualitas kinerja. 

Menurut Kemmis (1993),penelitian tindakan dibidang pendidikan meningkat dari penelitian yang sifatnya amatiran atau penelitian yang kumuh menjadi penelitian yang professional pada dekade tahun 1970-an terutama dikalangan yang menaruh perhatian terhadap isu-isu pendidikan  dan yang memahami betapa kompleksnya kaitan antara gagasan-gagasan dengan kehidupan,antara teori dengan praktik,antara ahli kemasyarakatan dengan orang awam, padahal mereka hidup dan bekerja pada satu dunia. 

Dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran action research berkembang menjadi  classroom action research ( CAR ). Sebagai suatu penelitian terapan,PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan proses dan kualitas atau pembalajaran di kelas.Dengan melaksanakan tahapan-tahapan PTK, guru dapat menemukan penyelesaian bagi masalah yang terjadi dikelasnya sendiri dan bukan dikelas guru yang lain. 

Tentu saja dengan menerapkan berbagai ragam teori dan tehnik pembelajaran yang relevan secara kreatif. Selain itu, sebagai peneliti praktis, PTK dilaksanakan bersamaan guru melaksanakan tugas utama, yakni mengajar dikelas, tanpa harus meninggalkan siswanya dikelas. 

Dengan demikian,PTK merupakan suatu penelitian yang melekat pada guru ,yakni mengangkat masalah-masalah actual yang dialami oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK diharapkan guru memiliki peran ganda yaitu sebagai praktisi dan sekaligus sebagai peneliti. Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. 

Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan-riset-tindakan-yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). 

Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama. Action research termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. 

Action research berbeda dengan penelitian formal, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun demikian hasil action research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang mirip dengan yang dimliki peneliti. 

PTK Di Indonesia PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir decade 80-an. 
Oleh karena itu, keberadaanya belum terlalu dikenal luas dan mapan. Keberadaanya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan bobot keilmiahannya.

 Di Indonesia, penelitian tindakan kelas mulai muncul ke permukaan pada waktu upaya-upaya perbaikan mutu pendidikan dicanangkan, seperti  proyek guru SD melalui pendidikan guru sekolah dasar (PGSD). 

Mereka belajar melalui program-program ke SD-an dan regular pada program pascasarjana LPTK seperti di universitas Negeri Jakarta,Universitas Negeri Malang dan beberapa LPTK lainnya. Hal yang menggembirakan dewasa saat ini banyak tesis dan disertasi di beberapa LPTK sudah mengangkat PTK sebagai kajian dalam tesis dan disertasinya. 

Kondisi ini sungguh positif dan menggembirakan, mengingat hasil PTK ini dapat memberikan jawaban langsung terhadap permasalahan yang di hadapi guru dalam proses belajar mengajar di kelas.

Sejarah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia Menurut Para Ahli

Sumber Kelima:

http://sapasayaa.blogspot.com/2012/03/pengertian-ptk-penelitian-tindakan.html

Munculnya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berasal dari inspirasi pendekatan ilmiah yang di kemukakan oleh seorang flsifus bernama John Dewey tahun 1910 dalam sebuah buku yang berjudul How We Think dan The Source of a Science of Education.

Pada awal tahun 1980, di Amerika, muncul suatu keinginan untuk mewujudkan kolaborasi dalam upaya mengembangkan profesionalisme antara pendidik dan tenaga kependidikan. Gideonse (1983) mengemukakan bahwa restorasi terhadap pendekatan penelitian perlu diadakan sehingga penelitian yang dilakukan merupakan investigasi yang terkendali terhadap berbagai fase pendidikan dan pembelajaran dengan cara refleksi dan sistematis. Upaya kaloborasi ini dikenal sebagai tindakan atau Action research.


Awal mulanya, Action recearch dikembangkan oleh seorang psikologi bernama Kurt Lewin dengan tujuan untuk mencari penyelesaian terhadap problem sosial, seperti pengangguran atau kenakalan remaja yang berkembang di masyarakat pada waktu itu. Action Research diawali oleh suatu kajian terhadap suatu problem secara sistematis.


Sejarah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia Menurut Para Ahli

Sumber keenam:


https://www.tipsbelajarmatematika.com/2016/09/sejarah-lahirnya-penelitian-tindakan.html

Sejarah Lahirnya Penelitian Tindakan Kelas - PTK muncul berdasarkan trend penelitian tindakan yang  pertama kali diperkenalkan oleh para ahli psikologi sosial dari Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. 

Dari gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya. Karena diperkenalkan oleh para ahli psikologi sosial, maka penelitian ini awalnya merupakan penelitian untuk menyelesaikan permasalahan permasalahan diantaranya pengembangan organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, dan permasalahan bidang pendidikan.

Siapa Kurt Lewin ? Kurt Lewin Seorang Ahli Psikologi Sosial 

Di bidang pendidikan, penelitian ini dapat dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata pelajaran, sehingga penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dinamakan penelitian tindakan kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam bahasa Inggris dikenal dengan classroom action research. 

Model PTK ini sejak lama berkembang di negara-negara maju seperti Inggris, Australia dan Amerika Ahli-ahli pendidikan di negara tersebut menaruh perhatian yang cukup besar terhadap PTK karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme dalam proses belajar mengajar di kelas dengan melihat indikator keberhasilan proses pembelajaran. 

Di Indonesia, PTK sudah dikenal sejak akhir Tahun 1980-an. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) semakin menjadi trend untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang. PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah tersebut secara sistematis. 

Hal kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan. 

Hasil dari proses refeksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan peryempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai suatu kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai. Dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, PTK berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas.

Sejarah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia Menurut Para Ahli

Sumber Ketujuh:

http://riskamayantiikha.blogspot.com/2014/04/sejarah-ptk.html

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dalam bahasa Inggris disebut Classroom Action Research (CAR) merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran, dan mencobakan hal-hal baru di bidang pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran. 

Pendek kata, PTK adalah ragam penelitian yang dimaksudkan untuk mengubah bebagai keadaan, kenyataan, dan harapan mengenai pembelajaran menjadi lebih baik dan bermutu dengan cara melakukan sejumlah tindakan yang dipandang tepat.

Di Dunia Munculnya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berasal dari inspirasi pendekatan ilmiah yang di kemukakan oleh seorang filsuf bernama John Dewey tahun 1910 dalam sebuah buku yang berjudul How We Think dan The Source of a Science of Education. Awal mulanya, Action recearch dikembangkan oleh seorang psikologi bernama Kurt Lewin dengan tujuan untuk mencari penyelesaian terhadap problem sosial, seperti pengangguran atau kenakalan remaja yang berkembang di masyarakat pada waktu itu. 

Action Research diawali oleh suatu kajian terhadap suatu problem secara sistematis. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali dikenalkan oleh Kurt Lewin. Pada waktu itu, PTK dipakai untuk mendeskripsikan penelitian yang merupakan perpaduan antara pendekatan eksperimental dalam bidang ilmu social dengan program tindakan social untuk menanggapi masalah social. Penelitian tindakan pertama kali dikembangakan oleh Kurt Lewin seorang Jerman pada tahun 1940-an. 

Ia seorang ahli psikologi social dan eksperimental. Ia adalah seorang yang peduli terhadap masalah-masalah social dan memfokuskannya pada proses kelompok partisipatif untuk menangani konflik, krisis, dan perubahan-perubahan yang umumnya ada dalam suatu organisasi. Lewin pertama kali mengemukakan istilah action research (penelitian tindakan) pada makalah-makalah yang ditulisnya pada tahun 1946, yang antara lain berjudul Action Research and Minority Problems, dan Characterizing action research as “a Comparative Research un the Condition and Effect of Various Forms of social action and Research Leading to social Action”. 

Konsep inti PTK yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin ialah bahwa dalam satu siklus terdiri dari empat langkah, yaitu:
1. Perencanaan (planning)
2. Aksi atau tindakan (acting)
3. Observasi (observing)
4. Refleksi (reflecting).

Ahli lainnya yang kontribusinya pada bidang penelitian ini adalah Eric Trist, seorang ahli psikiatri social. Lewin dan Trist mengaplikasikan penelitian mereka pada perubahan system yang terjadi di dalam atau antar organisasi. Mereka menekankan keprofesionalannya dan berkolaborasi dengan klien dan menguatkan peran hubungan kelompok sebagai dasar untuk pemecahan masalah. 

Dalam perkembangannya, PTK tidak hanya digunakan untuk bidang social dan ekonomi. Pada tahun 1952-1953, Stephen Corey memakai model PTK untuk penelitian tindakan dalam dunia pendidikan. Menurutnya, dengan PTK perubahan dapat dilaksanakan dan dirasakan oleh semua praktisi pendidikan. Selama beberapa dekade penelitian tindakan dilupakan orang karena dianggap kurang ilmiah.

Namun pada pertengahan tahun 1970-an, bidang ini berkembang dan memunculkan empat aliran utama yaitu :
1. Aliran tradisional
2. Contextural (action learning)
3. Radical
4. Penelitian tindakan yang berhubungan dengan pendidikan.

Pada tahun 1967-1972 ada suatu proyek di Inggris yang menekankan pentingnya percobaan kurikulum dan pentingnya pengembangan kurikulum (Schools Council’s Humanities Curriculum Project atau HCP). Kepala HCP, Lawrence Steen House (1975) memperkenalkan istilah “the teacher as researcher” atau guru sebagai peneliti. 

Sekitar tahun 1972-1975, ada proyek yang dinamakan Ford Teaching Project, yang dipimpin oleh John Elliot dan Clem Adelman (Hopkins, 1993 : 32). Ada 40 guru Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah yang dilibatkan dalam penelitian ini untuk menelaah praktek kelasnya dengan penelitian tindakan, sebagai upaya memperbaiki dan meningkatkan pengejaran mereka. Dari sinilah muncul istilah penelitian tindakan kelas. 

Pada tahun 1976 didirikan suatu jaringan penelitian tindakan kelas yang dinamakan classroom action research, yang berpusat di Cambridge Institute. Selanjutnya pada tahun 1980-an guru-guru di proyek John Elliot memusatkan kegiatan pada “adanya kesenjangan antara mengajar untuk pemahaman dan mengajar untuk kebutuhan”. Sejak saat itu, banyak perhatian ditujukan pada PTK, karena semakin tingginya kesadaran guru akan manfaat PTK. 

Pada awal tahun 1980, di Amerika, muncul suatu keinginan untuk mewujudkan kolaborasi dalam upaya mengembangkan profesionalisme antara pendidik dan tenaga kependidikan. Gideonse (1983) mengemukakan bahwa restorasi terhadap pendekatan penelitian perlu diadakan sehingga penelitian yang dilakukan merupakan investigasi yang terkendali terhadap berbagai fase pendidikan dan pembelajaran dengan cara refleksi dan sistematis. Upaya kaloborasi ini dikenal sebagai tindakan atau Action research. 

Penelitian ilmiah yang digunakan Dewey sangat ideal, namun pendekatan demikian tidak mampu menyelesaikan masalah menjadi sebuah inkuiri sosial maupun kependidikan yang merupakan sebuah upaya kolaboratif dengan mjnculnya suatu kebutuhan yang mendesak dalam ilmu pendidikan yang lebih memfokuskan pada masalah praktek bukan pada teori . Kebutuhan terhadap sebuah upaya kolaboratif dalam menyibak tabir penelitian semakin hari dirasakan semakin mendesak. 

Pada akhir tahun 1970 dan awal 1980 di Amerika Serikat muncul keinginan mewujudkan kolaborasi, dengan demikian mampu mengembangkann profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan. Untuk itu, Gideonse (1983) mengemukakan perlu dilakukan restorasi terhadap pendekatan penelitian sehingga penelitian itu merupakan suatu investigasi terkendali terhadap berbagai fase pendidikan dan pembelajaran dengan cara reflektif dan sistematis. Dukungan kolaboratif semakin meluas (Schon, 1983; Prunty dan Hively 1982). 

Upaya kolaboratif ini dikenal sebagi suatu penelitian tindakan (action research) Penelitian tindakan mengalami kemunduran selama kuran lebih dua puluh tahun ejak Hogkinson (1957) mengadvokasinya. Menurut sejarah kelahiran penelitian tindakan sesungguhnya sudah pernah digunakan stephen M. Carey (1950) untuk memperbaiki taraf kehidupan etnik Indian Amerika. 

Dalam ilmu sosial, Kurt levin (dalam McTaggart, 1993) memahami antara hubungan antara teori dan praktik sebagai aplikasi dari hasil penelitian.Menurut Levin kekuatan dari penelitian tindakan terletak pada fokus penelitian, yaitu masah-masalah sosial poitik. Kemmis (1982) bahkan menegaskan bahwa theory and acion might develop together from application of the scientific approach. 

Tokoh penelitian tindakan, yang juga aktor sosial (Levin, 1952) adalah Stephen M. Corey (1949,1952,1953). Ia mempelopori pemanfaatan penelitian tindakan untuk guru, yang kemudian dikenal dengan penelitian tindakan kelas. Itulah sekelumit sejarah penemuan penelitian tindakan kelas. 

Namun bagaimanapun yang terpenting bagi seorang pendidik khususnya, adalah penelitian tindakan kelas apabila dilakukan dengan prosedur yang benar, jelas akan melahirkan proses kegiatan belajaar-mengajar yang bermakna, bukan sekedar hasil, tapi juga proses kegiatan belajar itu sendiri. 

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial berkebangsaan Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin Mc. Taggart, John Elliot, Dave Ebbutt dan sebagainya. Di Indonesia sendiri PTK baru diperkenalkan pada akhir dekade 80-an (Aqib, 2006:87).

Sejarah Penelitian Tindakan Kelas Di Indonesia
Di Indonesia PTK masih dapat dikatakan relatif muda, karena selama ini model penelitian di kelas berupa penelitian kuantitatif. Paradigma lama beranggapan bahwa kelas hanya merupakan lapangan tempat uji coba teori, tempat menyebarkan angket penelitian tanpa ada usaha melibatkan guru sebagai tim peneliti, padahal guru merupakan kunci keberhasilan metode pembelajaran yang hendak diujicobakan. 

Dengan munculnya PTK diharapkan akan menghapus paradigma seperti itu. Gurulah yang lebih tahu permasalahan yang ada dikelasnya, yang pada gilirannya guru jugalah yang berperan mencari solusinya. PTK saat ini merupakan sarana yang paling ampuh dalam mencari solusi terhadap permasalahan dalam pembelajaran yang dialami guru. 

Perkembangan PTK di Indonesia masih relative muda. Pada tahun 1994-1995 proyek PGSD memprogramkan penelitian kebijakan dan penelitian tindakan dengan topic ke-SD-an. Namun pada waktu itu belum ditekankan pada penelitian tindakan kelas, karena PTK masih merupakan “hal baru”. Kemudian pada tahun 1996-1997, proyek penelitian guru SD memprogramkan penelitian tindakan kelas bagi dosen-dosen PGSD di seluruh Indonesia, bekerja sama dengan guru-guru SD. 

Sejak saat itu, penelitian tindakan kelas mulai berkembang sebagai suatu penelitian kolaboratif di dalam kelas sebagai upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berkembang dari istilah penelitian tindakan (action research) (Sanjaya, hal. 24). 

Oleh karena itu, untuk memahami pengertian PTK perlu ditelusuri pengertian penelitian tindakan terlebih dahulu. Penelitian tindakan mulai berkembang di Amerika dan berbagai negara di Eropa, khususnya dikembangkan oleh mereka yang bergerak di bidang ilmu sosial dan humaniora (Basrowi & Suwandi).

Orang-orang yang bergerak di bidang itu dituntut untuk terjun mempraktikkan suatu tindakan atau perlakuan di lapangan. Mereka berarti langsung mempraktikkan tindakan yang telah direncanakan dan mengukur kelayakan tindakan yang diberikan tersebut. Menurut Kemmis (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang dilakukan peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran praktik sosial mereka (Sanjaya,). 

Dalam hal ini, penelitian tindakan memiliki kawasan yang lebih luas daripada PTK. Penelitian tindakan diterapkan di berbagai bidang ilmu di luar pendidikan, misalnya dalam kegiatan praktik bidang kedokteran, manajemen, dan industri (Basrowi & Suwandi). Bila penelitian tindakan yang berkaitan pada bidang pendidikan dilaksanakan dalam kawasan sebuah kelas, maka penelitian tindakan tindakan ini disebut PTK. 

Sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu PTK dikenal dan ramai dibicarakan dalam dunia pendidikan. Istilah dalam bahasa Inggris adalah Classroom Action Research (CAR). Dari namanya sudah menunjukkan isi yang terkandung didalamnya, yaitu sebuah kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas.

Dikarenakan ada tiga kata yang membentuk pengertian tersebut, maka ada tiga pengertian yang dapat diterangkan yaitu:
  • Penelitian, menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
  • Tindakan, menunjukkan pada suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa.
  • Kelas, dalam hal ini tidak terkait pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Kelas adalah sebuah ruangan tempat guru mengajar dan untuk siswa yang sedang belajar. Tetapi pengertian tersebut salah, sehingga perlu ada penjelasan lebih terperinci tentang pengertian kelas. Menurut pengertian pengajaran, kelas bukan wujud ruangan, tetapi sekelompok peserta didik yang sedang belajar.


Dengan demikian, penelitian tindakan kelas dapat dilakukan tidak hanya di ruang kelas, tetapi dimana saja tempatnya, yang penting ada sekelompok anak yang sedang belajar. Peristiwanya dapat terjadi di laboratorium, di perpustakaan, di lapangan olahraga, ditempat kunjungan, atau ditempat lain dimana siswa berkerumun belajar tentang hal yang sama. Ciri bahwa anak sedang dalam keadaan belajar adalah otaknya aktif berpikir, mencerna bahan yang sedang dipelajari. 

Dengan batasan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa (Arikunto dkk., 2006: 2-3). 

Penelitian Tindakaan Kelas Saat Ini 
Pada beberapa tahun terakhir ini, PTK mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya kesadaran para guru dan para peneliti di bidang pendidikan akan manfaat PTK bagi perbaikan proses pembelajaran di kelas. Sebenarnya PTK sudah dilaksanakan oleh guru sejak ada proses pembelajaran secara klasikal, meskipun tidak disadari oleh guru. 

Pada saat itu sudah dilakukan upaya perbaikan proses pembelajaran di kelas, namun pada saat itu belum dinamakan PTK. Sejak ada proses pembelajaran, praktis PTK sudah ada, hanya saja belum ada laporan secara tertulis tentang upaya perbaikan pembelajaran di dalam kelas. Akhir-akhir ini, penelitian tindakan yang berhubungan dengan pendidikan dan bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan cara guru mengajar di kelas dikenal dengan penelitian tindakan kelas, berkembang dengan pesat, terutama di negara maju seperti Amerika serikat, Inggris, dan Australia. 

Di Indonesia, penelitian tindakan kelas mulai diperkenalkan pada tahun 1990-an. Mengapa PTK perlu dilakukan oleh guru? Menurut Hopkins (1993). Dari segi profesionalisme penelitian kelas yang dilakukan oleh guru dipandang sebagai satu unjuk kerja seorang guru yang profesionalkarna studi sistematik yang dilakukan terhadap diri sendiri dianggap sebagai tanda dari pekerjaan guru yang professional. 

Dari sisi ini ada dua argumentasi yang dapat dikemukakan oleh Hopkins (1993).
1. Guru yang baik perlu mempunyai otonomi dalam melakukan penelitian Professional sehingga sesungguhnya ia tidak perlu diberi tahu apa yang harus Dikerjakan.
2. Ketidaktepatan paradigma penelitian tradisional dalam membantu guru Memperbaiki kinerjanya dalam mengajar.

Semoga rangkuman di atas mengenai Sejarah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di Indonesia Menurut Para Ahli menjadikan manfaat bagi semua.

Terima kasih

Sumber: 

http://zulfaidah-indriana.blogspot.com/2013/05/sejarah-penelitian-tindakan-kelas-ptk.html
http://www.detikpendidikan.com/2018/01/sejarah-lahirnya-penelitian-tindakan.html
https://idtesis.com/penelitian-tindakan-kelas-ptk-sejarah/
http://ridhofkip.blogspot.com/2013/04/sejarah-penelitian-tindakan-kelas.html
http://sapasayaa.blogspot.com/2012/03/pengertian-ptk-penelitian-tindakan.html
https://www.tipsbelajarmatematika.com/2016/09/sejarah-lahirnya-penelitian-tindakan.html
http://riskamayantiikha.blogspot.com/2014/04/sejarah-ptk.html



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel